nona's posts with tag: my article

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag my article
Blog EntryHore! Akhirnya Terbit Juga...Feb 11, '08 2:13 AM
for everyone
Yes yes, akhirnya artikel-artikel yang bikinnya mati-matian itu terbit juga Senin ini. Hihihi, temanya mengenai perkembangan label independen di kota Bandung. Hueeeeek, berat pisan. Huhu, ini link-linknya, siapa tahu ada yang mau baca.

(Bukan) Rumah Kartu?
"Don't Look Back Into The Sun!"
Jalur Bebas Tembus Pasar Internasional

Selamat membaca!

Blog EntryReviewJun 18, '07 2:04 AM
for everyone
Rasanya puas sekali menulis kalimat terakhir buat rubrik review di media pastel edisi kali ini. Harharharrrr. 


Nama John Lennon, Axl Rose, Mick Jagger, Chris Martin, sampai Brandon Flower, mungkin terdengar lebih akrab di telinga Belia ketimbang nama George Harrison, Tracie Guns, Keith Richard, Jonny Buckland, atau Dave Keuning. Biasa lah, vokalis kan emang paling tampil. Dia adalah frontman sekaligus icon sebuah band. No wonder, kalau jadinya dia yang paling dikenal orang dibandingkan personil band lainnya.

Kira-kira, apakah alasan “tampil” ini yang bikin seorang Eka Annash memilih jadi vokalis di antara posisi lain dalam sebuah band? Kan kalau dilihat-lihat setiap The Brandals manggung, Eka pasti paling ganas dan provokatif. Hihihi … yuk, kita cari tahu lebih banyak tentang Eka Annash, vokalis The Brandals, di Chat edisi kali ini.

“Gua milih jadi vokalis karena dia lebih banyak dapat groupies, hehehe. Gini sih, vokalis itu tipe orang yang bisa mengakumulasi antara integritas dan intelektual serta sex appeal-nya juga gede. Lihat aja John Lennon, Axl Rose, Mike Jagger. Kalau kata gua sih, mereka jenius,” urai Eka, yang ditemui di kawasan Sudirman, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ngomong-ngomong soal vokalis, Eka mengaku paling terpengaruh sama pemikiran John Lydon, vokalis Sex Pistols. Awalnya, gara-gara Eka baca bukunya John Lydon yang punya ngaran “No Irish, No Blacks, No Dogs”. Setelah ngebaca buku ini, dia makin terinspirasi buat ngedalamin musik. “Dari mulai hidupnya sampai dia ngeband, gua kayak ada hubungan sama dia. Dia hidup di pinggiran London, sama kayak gua yang hidup di Jakarta, di daerah kumuh,” tutur cowok yang fasih berbahasa Sunda ini.

Kerasnya hidup di Jakarta, pernah juga dirasain Eka, misalnya pas dia masih SMA. “Gua kan di SMA 68 Salemba nih yang lokasinya dekat sama STM. Tiap hari gua dipalakin sambil dikatain ‘Cina’, hahaha!” ujarnya lalu tertawa. Biar sangar gini, ternyata Eka enggak pernah ikut tawuran. “Kata gua sih, tawuran itu tindakan paling bego!” ucap cowok yang pernah jadi produser radio ini.

Lulus SMA, Eka hijrah ke Aussie buat kuliah di fakultas seni murni dan ngedalemin seni lukis. Sydney punya banyak kenangan buat Eka, salah satunya dengan ragam budayanya. “Kalau di sana, melting pot budayanya harmonis. Orang berbagai ras ngumpul dan berkembang, flourish banget!” kenang Eka. Malah di sana Eka sering ikutan pameran lukisan. “Kalau di sini sih jarang, soalnya Jakarta kurang inspirasional buat visual,” keluh Eka.

Jadi kabar yang selama ini bilang kalau orang Australia itu rasis, kurang tepat dong. “Ah! Rasis itu buat orang yang enggak percaya diri,” tegas Eka. Eka nyontohin pas kedatangannya pertama kali ke Australia yang waktu itu lagi panas-panasnya masalah Timor Timur. “Asal kita punya prinsip, argumen, dan idealisme yang cerdas, mereka juga pasti bakal lebih respek sama kita! Kita juga enggak usah takut sama bule, sama-sama manusia, kok!” urai Eka panjang lebar. Ya! belia setuju sama prinsip Eka yang satu ini.

Ngomongin Eka tanpa nyinggung The Brandals kayaknya kurang komplet. Dulu, The Brandals dikenal sebagai band yang kasar dan ugal-ugalan di panggung. Kata-kata pedas dan vulgar ibaratnya udah jadi nama tengah The Brandals. Tapi sekarang, uhm masih sih tapi kadarnya agak berkurang. Kenapa, sih? “Konsep yang dulu kita jalani dengan segala kontroversi dan agresivitas juga negativity-nya, kita enggak nemu apa-apa. Cuma sebatas sensasi tapi di dalamnya kosong,” ucap Eka sambil senyum.

Duh! Ngobrol sama Eka ini emang benar-benar ngebetahin, sampai-sampai belia enggak nyadar, udah habis dua kaset. Oh iya, Eka Annash punya filosofi yang mesti Belia ingat dan simak. Its about mistake that you have made on your life. “Kesalahan itu bukan buat disesali, kesalahan itu harus diimpresi dan di-explore. Jadi lo bisa tahu, kemarin gua jatuh di mana sehingga lo enggak bakal jatuh di tempat yang sama. Bukankah hidup adalah saat kita jatuh dan berdiri lagi?” tutur Eka dengan bijaksana. Yeah! You got it right, Eka! Yang lain gimana? Setuju, kan? ***

astrid_belia@yahoo.com

uncut version-soon,,



Blog EntryAndien: Nyanyi Jazz Itu Kayak Main BolaMar 12, '07 11:27 PM
for everyone
Suara jazzynya udah sering kita denger di radio atau di televisi. Gayanya yang chic sekaligus modis udah sering nangkring di majalah-majalah remaja. Udah ketebak siapa yang bakal nemenin Belia buat Chat edisi kali ini? Yup, ini dia Andien dan kali ini dia cerita banyak banget soal dirinya. So, Check this out!

Andien rada bingung pas kru belia nanya sejak kapan dia tertarik dengan musik jazz. “Udah dari kecil banget dan mungkin tanpa aku sadari. Tapi kalau mempelajari musik jazz sih dari kenal 6 SD,” ucapnya membuka pembicaraan. Penyanyi jazz pertama yang dia dengerin adalah Astrud Gilberto. Whiiii, sama kayak kru belia dong!

Pas les musik di Elfa Secioria, Andien tambah jatuh cinta dengan musik jazz. “Kalau bisa tiap hari les, aku pasti les tiap hari. Soalnya, aku merasa nyanyi adalah bagian dari jiwa yang enggak bisa

dipisahkan,” gitu kata cewek bernama lengkap Andini Aisyah Hariadi ini.

Lewat tangan dingin Elfa Secioria juga, Andien merilis album perdananya, “Bisikan Hati”. Kata Andien, waktu itu emang Bang Elfa yang langsung yang menyemangati Andien buat bikin album.

Anyway, about being a singer, Andien punya cerita, nih. “Waktu kecil, seneng banget nonton konser Mariah Carey, Whitney Houston, New Kids on the Block. Terus aku sering nyanyi sambil joget-joget niruin mereka dan aku selalu ngebayangin kalau besok aku bakal nyanyi di depan seribu orang,” tuturnya panjang lebar dengan muka yang kocak banget.

Btw, “Bisikan Hati” langsung dapet pujian dari kritikus musik, enggak tanggung-tanggung, Andien dinobatkan sebagai penyanyi jazz berbakat. Beban enggak, sih? “Awalnya sih iya. Tapi karena aku cinta dengan musik jazz, aku mikirnya enggak boleh kebebanin juga enggak boleh terlalu bangga,” tutur pengagum Mischa Barton ini.

Biar enggak grogi pas ketemu penyanyi jazz senior, Andien punya tips nih… “Aku merendahkan diri serendah-rendahnya sampai aku menemukan dasar kenapa aku terjun ke dunia jazz,” ucapnya dengan bijak.

Selain “Bisikan Hati”, ada “Kinanti” dan “Gemintang” yang dirilis Andien. Tiga-tiganya bernuansa beda, misalnya aja dari segi fashion. “Tiga album itu adalah tiga stage usia berbeda di hidup aku. Mulai SMP, SMA, sampai kuliah. Wajar dong kalau berubah, karena ada banyak masukan baru dalam hidup,” ujar Andien menjelaskan.

Punya fashion stylist sendiri adalah salah satu masukan yang diterima Andien biar tampilannya makin poll. Kalau ditanya style Andien itu kayak gimana, dengan lugas Andien menjawab “Pokoknya I got my own style. Tapi, disesuain sama bentuk badan, usia, juga image! Insya Allah yang aku pakai itu enggak bakal masalah…”

Itu kan soal fashion, kalau soal album yang makin ke sini tambah pop, gimana nih? “Emang sengaja dibikin enggak terlalu jazz. Hmm, tunggu aja deh, abis beres kontrak sama label ini, aku bakal bikin album indie yang jazz-nya gila parah!” ujarnya dengan penuh semangat. Whiiii, jadi enggak sabar…

Last question nih, apa sih arti jazz buat seorang Andien? “Jazz paling mereflesikan perasaan aku. Uhm, kalau diibaratkan hampir sama kayak main bola. Energinya itu kayak kalau menendang bola ke dinding. Makin emosi, makin kenceng nendangnya. Dan aku cuma bisa gitu lewat musik jazz,” urai Andien. Hmm, nice philosophy girl! ***

astrid_belia@yahoo.com

Jemari mungil Sarah bergerak cepat menekan tuts keyboard komputernya. Sesekali dia melihat jarum jam yang bergerak perlahan melahap waktu, bermain dengan perasaannya yang terburu-buru. “Baru satu paragraf nih, padahal bentar lagi deadline!” bisik Sarah dalam hati.
Tema bulan ini adalah Valentine dan tugas Sarah adalah membuat tulisan berbahasa Inggris mengenai cinta. Kalau cuma buat diary sih, enggak masalah. Tapi Sarah menulis untuk majalah sekolahnya. Bukan cuma dia yang bakal baca, tapi ribuan orang di sekolahnya. Kalau bikinnya asal, Sarah dan jajaran redaksi majalahnya bakal malu. Males, kan?

Menurut wikipedia.org, majalah udah ada sejak abad ke-17, lho! Dia bernama Journal des Scavans yang berasal dari Prancis. Isinya pun sederhana; seputar review buku dan tulisan kontributor.

Beda banget sama zaman sekarang, ya? Majalah udah beragam dan segmented banget. Bayangin aja, ada lho majalah yang khusus ngebahas kursi rotan, desain kamar mandi, atau musisi yang lagi naik daun. Wow!

Semua karena reformasi tahun 1998 yang membebaskan pers dari kekangan rezim Orde Baru. Kita sudah enggak butuh izin kayak SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers) buat mendirikan media massa. Kasarnya, asal ada modal kertas, printer, uang fotokopi, sedikit kemampuan me-layout dan menulis, zaaapp anyone can make their own magazine.

Yup, media massa bukan lagi monopoli industri raksasa! Pelajar SMP dan siswa SMA kayak Belia pun bisa bikin majalah. Tapi tentunya, bukan majalah tanpa isi yang tidak berguna, dong? Lantas bagaimana caranya bikin majalah sekolah yang asyik dan dibaca banyak orang, juga bikin kamu bangga setengah mati? Well, simak nih!

Majalah enggak akan terbit tanpa isi dan orang-orang di belakang layarnya. Sebuah tim bernama redaksi-lah yang jadi fondasi sebuah majalah. Mereka adalah reporter, editor, fotografer, layouter, dan ilustrator. Karena melibatkan banyak orang, tim redaksi Belia kudu solid! Sementara yang menjadi intisari adalah isi, misalnya tulisan, fotografi, dan ilustrasi. Catat nih, yang enggak kalah penting adalah periodisitas penerbitannya.

“Majalah itu harus terbit rutin, kalau mau bulanan, ya bulanan seterusnya. Karena majalah itu harus dijaga konsistensinya,” kata Hagi Hagoromo, Editor In Chief Four Four Two. Ya, belia setuju sama Hagi. Biarpun majalah sekolah Belia terbit per empat bulan, itu enggak jadi soal, yang penting periodisitasnya terjaga. Sehingga pembaca enggak akan bingung atau lupa dengan majalah sekolah Belia.

Ini dilakukan Info 5 dari SMPN 5 Bandung yang terbit dua bulan sekali sejak terbit pertama kali. Belia SMAN 5 Bandung malah kudu lebih sabar, pasalnya mereka mesti nunggu enam bulan sekali buat bisa nikmatin Majalah Lima. Jeda ini ada kaitannya dengan biaya produksi yang sebagian besar berasal dari sekolah melalui siswa. “Biaya sekali produksi itu sekitar delapan juta rupiah untuk 2.000 eksemplar, diambil dari iuran bulanan siswa. Nanti dibagikan gratis ke siswa!” tutur Pak Kusmara, Pembina PEMA (Pewarta Lima) SMPN 5.

Biaya produksi yang enggak sedikit ini juga sempat menghalangi Belia SMAN 1 Bandung bikin majalah sekolah. “Kita mesti nunggu satu tahun sampai sekolah menyetujui. Baru minggu kemarin majalah sekolah kita disetujui sekolah, namanya Hiji! Doain, ya!” ujar Dika, Belia SMAN 1 Bandung. Sip!

Nah, biasanya, jeda waktu ini digunakan buat rapat redaksi. “Pas rapat redaksi kita bisa brainstorming, nentuin materi yang akan dibahas juga deadline,” ucap Hagi yang pernah jadi Editor in Chief TRAX.

Makanya PEMA selalu rutin rapat tiap Jumat, karena rapat redaksi emang penting, dia ibarat bahan mentah untuk masakan yang akan kita sajikan. “Kita rapat buat diskusi soal tema dan pembagian tugas,” tutur Amiroh, Ketua PEMA.

Majalah Lima malah selalu ngadain rapat redaksi jauh-jauh hari, tiga bulan sebelum terbit! “Dari mulai konsep sampai bikin proposal buat sekolah. Kalau harus revisi, kita perbaiki sampai disetujui. Beres dari situ, kita langsung bergerak. Ada yang cari sponsor, ada juga yang nulis, desain, foto,” tutur Sherly, reporter APL (Ajang Pers Lima) yang mengeluarkan Majalah Lima.

Wait a minute! Cari sponsor? Iya, dong! Meskipun udah disubsidi sekolah, kita jangan berpangku tangan. Lihat aja, Majalah Lima yang udah mulai bergerilya buat dapetin pemasang iklan. Hasilnya sejumlah bimbingan belajar, clothing, dan majalah lain pun berhasil digaet barudak APL. “Edisi depan, kita kerja sama sama Suave. Lumayan pisan lah, dapat diskon buat percetakan!” kata Pangeran Akbarsyah, Pimpinan Redaksi Majalah Lima.

Menurut pengelola Suave Tjoek Widharyoko, mereka tertarik kerja sama dengan Majalah Lima karena segmented banget dan fakta bahwa majalah sekolah lebih dekat dengan pembacanya. “Suave bisa branding di SMA 5 dan dua-duanya bisa barter iklan! Lagian majalah sekolah itu pasti bakal disimpan terus-terusan,” urai jebolan Seni Lukis ITB ini. See… kalau kamu gigih berusaha, dapetin iklan buat majalah sekolah kamu bukanlah hal yang mustahil.

Okay, sekarang kita beralih ke isi majalah. Menurut Hagi, resep ampuh biar majalah sekolah kamu jadi bacaan wajib teman-teman kamu adalah dengan menulis segala sesuatu yang dekat dengan pembaca. Atau baca nih pendapat langsung dari pembaca yang belia temui. “Pokoknya isinya harus tentang sekolah kita, anak-anaknya. Kalau bisa jangan hanya si itu-itu aja yang diekspos, kita juga dong!” ucap Diece, Belia SMAN 5 Bandung. Simple, kan?

Kebanyakan majalah sekolah yang belia baca sih udah nerapin resep ini. Dari mulai profil guru, siswa, band sekolah, karya siswa (cerita pendek, puisi, komik), sampai salam-salaman. “Selain itu, kita juga liputan ke tempat lain atau wawancara orang terkenal,” kata Gene, Editor Info 5.

Misalnya, Info Lima edisi 106 yang mengambil tema liburan. Artikelnya kehitung komplet, dari mulai spot jajanan terkenal di Bandung sampai tulisan gimana menghabiskan liburan sebaik-baiknya juga ada. Majalah Lima malah lebih luas lagi. Di dalamnya terdapat horoskop, interview band indie, sex education, dan tulisan feature. Soal cara nulisnya juga oke, lho! Bacanya enak, gampang dimengerti, dan enggak ada kesan menggurui.

Nah, sekarang kita sampai ke bagian pengeditan alias sensor. Kalau di media massa, setiap tulisan diedit oleh editor, tindakan yang hampir sama juga berlaku di sekolah. Bedanya yang menangani adalah sekolah langsung. “Dari mulai bahasa sampai isi artikel semuanya dibaca dulu oleh guru. Kalau ada yang dianggap enggak sesuai atau bisa mengganggu nama baik sekolah, kita harus mengeditnya,” kata Firman, eks Pimpinan Redaksi APL. Siapa tahu kan ada salah ketik nama, alamat, atau kutipan.

Pengeditan ini ternyata sedikit memberatkan redaksi majalah sekolah. “Kita enggak ngerasa dikekang, kita cuma pengen dibebasin pake bahasa gaul di tulisan dan nulis artikel kayak gimana sih rasanya sekolah di SMAN 5,” curhat Irfan, Reporter APL yang diamini teman-temannya.

Menurut Pak Kusmara, pengeditan oleh sekolah ini semata-mata bertujuan untuk menjaga nama baik sekolah dan alasan etika. “Karena tulisan itu kan dibaca oleh guru dan orang tua siswa juga,” ucapnya. Hagi punya pendapat berbeda, “Diperlukan atau enggaknya sensor, tergantung dari isi tulisannya. Kalau enggak macem-macem ya enggak usah disensor!” Nah, bener tuh…

Menurut belia, jalan tengah biar tulisan kamu di majalah sekolah enggak dibabat habis adalah tulisan kamu harus berimbang, lengkap dengan narasumber yang kompeten alias jangan mengawang-awang dengan modal opini pribadi aja. So, tulisan kamu pun bakal lebih kuat isinya dan terpercaya. Gampang, kan?

Beres diedit sekolah, giliran tangan dingin para layouter yang beraksi. Jangan salah, lho… biarpun masih ABG, mereka sendiri yang me-lay-out majalah sekolahnya! “Dulu sih, kita serahin langsung ke percetakan. Tapi kita enggak puas, akhirnya kita sendiri yang handle,” kata Gichi, Belia kelas IX. PEMA bahkan udah punya Info 5 versi PDF yang bisa didownload di internet. Klik aja
www.smpn5-bdg.sch.id/info5.

Desain beres, tinggal dicetak! Nah, kalau soal percetakan sih sebenarnya gampang-gampang susah. Bisa diserahkan langsung ke sekolah dan Belia tinggal terima jadi atau Belia sendiri yang rajin survei sana-sini buat cari yang paling terjangkau. Nanti, Belia bisa nawarin barter dengan memasang iklan percetakan di majalah sekolah Belia. Lumayan lho, dapet diskon! Hehehe…

Last but not least, jangan patah semangat buat bikin majalah sekolah! Biarpun dana terbatas atau sensor sana-sini, Belia harus tetap menulis. Hei, zaman udah maju, enggak bisa bikin yang cetak, bikin versi online-nya! Kalau ada hambatan yang bikin nyesek dada, inget-inget aja testimoni pembaca yang satu ini, “Diece bangga punya majalah sekolah. Kalau majalahnya enggak kebagian, pokoknya Diece bakal nyari dan disimpen!” gitu katanya.

Ayo! Speak your mind through your writing! Inget, majalah sekolah itu dari siswa, oleh siswa, untuk siswa.***

astrid_belia@yahoo.com


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help