| |
nona's posts with tag: sok sentimentil
Minggu ini, Pak Harto meninggal dunia. Sebenarnya, hal ini sudah bisa diperkirakan sebelumnya. You know, ketika seseorang yang sakit parah lalu membaik, sebenarnya ini sebuah pertanda kalau dia akan pergi selamanya. Setidaknya itulah yang selalu saya alami di tengah-tengah saya. Apapun itu, I think this is the best for him. Kalau dia ayah saya, saya pun tidak akan tega melihatnya kesakitan seperti itu. I never hate him, I never love him either. Mungkin dia memang melakukan jutaan kesalahan yang membuat rakyat ini menderita, tapi dia juga melakukan banyak hal baik untuk negeri ini. Seperti koin dengan dua sisi berbeda, seperti Soekarno zaman dulu, dia pun seperti itu. Kita tidak akan pernah bisa menemukan manusia bersih dari dosa, kecuali the greatest prophet, Muhammad SAW.
Dia beruntung tidak mengalami apa yang dialami Soekarno. Ketika sakit parah, Soekarno adalah tahanan rumah yang tidak diizinkan untuk berjalan-jalan ke halaman rumah sekalipun. Dokter yang memeriksa pun hanya dokter hewan. Yes, he's lucky. Dia memperoleh perawatan yang memadai dengan dokter-dokter ahli di sekelilingnya juga alat-alat canggih yang men-supportnya, juga keluarga yang selalu mengelilinya, esp Mbak Tutut (gosh, I never see her crying like that). May he rest in peace. Anyway, saya tidak sabar untuk membaca Tempo. Beberapa tahun lalu, seorang kawan yang bekerja di sana bilang redaksinya telah menyiapkan edisi khusus jika Soeharto meninggal. Kantor saya pun melakukan hal yang sama, di ruangan layout sudah disiapkan halaman-halaman yang akan mengisi koran saya di hari Soeharto meninggal. Hmm, catatan pinggir Goenawan Muhamad, I really can't wait to read it.
 | Review | Jun 18, '07 2:04 AM for everyone |
Rasanya puas sekali menulis kalimat terakhir buat rubrik review di media pastel edisi kali ini. Harharharrrr.
| | |
|
|